belummandi

Avatar'bisa-bisanya basa-basi' - 'biasa basa-basi sebisanya'

Ndak Berdaya

Ndak berdaya. Kayak begitu mungkin yang saya rasakan. Tiap kali megang kibor komputer (punya kantor / orang lain) atau laptop (jelas punya orang lain jugak), tetep saja niatan mau nulis di blog ini kembali terhambat.

Ndak berdaya. Lagi-lagi ndak berdaya setelah tempo hari komputer tersayang terpaksa saya lego demi kepindahan tugas kerja ke.... KENDARI, Sulawesi Tenggara !!! Mana mungkin dibawa barang segitu gede, apalagi tanpa jaminan listrik aman di sana.

Ndak berdaya. Nah, cita-cita beli laptop juga belum kesampaian karena tetek bengek ini itu mesti memulai hidup baru di daerah yang baru. Alhasil, mau curhat lewat blog ini jugak tertunda-tunda.

Meninggalkan isteri dan keluarga di Jawa demi sesuap nasi di pulau Sulawesi. Sebulan sudah saya mengenal Kendari. Kota yang jauh lebih ramah dari bayangan semula. Namun, yang namanya jarak tetap bikin ndak berdaya, terutama untuk urusan kantong. Pulsa dan tiket pesawat adalah hal terpenting untuk selalu menjaga komunikasi dengan keluarga.

Well, petualangan telah dimulai. Kisah-kisah baru selalu saja seru. Semoga blog ini tak harus terkubur. (wku)


Mak Nyuss-nya Gudeg Mak Neng

Sungguh mengagumkan apa yang dilakukan nenek itu. Menginjak usia rentanya, sekitar 70 tahunan, Mak Neng, demikian sapaannya, masih cekatan meracik gudeg. Setiap pagi seusai Subuh, bersama dua orang pembantunya, Mak Neng sudah membuka warung gudeg di samping gedung bekas bioskop tua ‘City Theatre’ di Kota Temanggung, Jawa Tengah.

Jangan membayangkan warung gudeg itu tertata layaknya warung makan pada umumnya. Mak Neng yang bersahaja itu hanya memiliki satu meja berukuran sedang yang ditutup etalase plastik agak buram dan beberapa bangku panjang yang mengitari meja untuk duduk para pembeli. Di atas meja itulah terdapat baskom dan wadah-wadah untuk menampung nasi, bubur, gudeg, sambel, telur, krecek, tahu serta potongan-potongan daging ayam.

Daging ayam yang sebagai lauk utama gudeg pun bukan sembarang daging. Mak Neng sengaja memilih daging ayam kampung jantan yang dimasak hingga empuk. Tak heran apabila paha daging ayam yang tertata di baskom milik Mak Neng terlihat panjang-panjang dan menggiurkan.
Gudeg Mak Neng juga lebih basah daripada gudeg Jogja, karena ada sedikit kuah. Rasa manisnya pun tidak berlebihan dan terasa pas di lidah.

Gudeg ala Mak Neng memang beda, tak hanya nasi, gudeg pun bisa dinikmati bersama bubur hangat. Nyatanya bubur gudeg justru selalu laris dan lebih dulu habis dibandingkan nasi. Sewaktu saya bersantap di warung itu, tak sedikit pelanggan yang kecewa karena kehabisan bubur.

“Mak, buburnya masih,” ujar pelanggan bernama Madiyono.
“Habis Pak, tinggal nasinya…” jawab Mak Neng.
“Waduh telat nih, ya sudah kalau begitu Mak…”
“Iya, iya Pak… ndak papa…”
“Lho Pak Mad, kok mau pulang? Sarapan pakai nasi saja,” ujar pelanggan yang lain.
“Anu Bu, perut saya ndak enak diajak makan nasi kalau pagi begini, hehe… mari Bu…”

Demikianlah suasana khas pagi hari di warung Mak Neng. Keakraban antar pembeli mudah saja terjadi karena tipikal warga Temanggung yang hangat dan suka menyapa. Kota ini amatlah kecil dan warganya mudah untuk saling mengenal satu sama lain.

Gudeg Mak Neng memang tergolong mahal untuk ukuran Temanggung. Nasi gudeg ayam plus segelas teh hangat di gelas belimbing dihargai Rp. 12.000,-. Namun, harga segitu sangatlah murah untuk citarasa lebih dari Mak Nyuss ala Mak Neng.

Hmmm, sayangnya saya ndak bisa meng-upload foto-fotonya di blog ini. Pagi itu saya ndak bawa kamera dan terpaksa pinjem hape untuk ngambil gambar Mak Neng. Eh, lhadalah, sama saja ternyata, ndak ada kabel untuk nguploadnya… hape pinjeman itu juga ndak ada memory card-nya, hehe… katrok tenan. Padahal Mak Neng sudah asik-asik saja saat difoto.

“Ya silakan difoto, saya biasa difoto kok…” ujarnya sambil senyum lebar.

Oke Mak Neng, lain kali saya pasti datang lagi bawa kamera. (wku)

Pemilu...

Pemilu yang aneh. Pesta (yang maunya) demokrasi kali ini memang bisa bikin mumet kepala. Jumlah partai yang bejibun, caleg-caleg yang narsis, hingga kisruh daftar pemilih tetap (DPT) dan lain-lain.

Tapi meski memandang pemilu dengan tatapan sedih, saya tetap berharap tidak ada konflik fatal setelah ini. Capek melihat sesama anak negeri berantem. Dari awal pun saya sudah bertekad akan menggunakan hak pilih saya. Tapi, sekali lagi karena pemilu kali ini aneh, maka perjalanan saya untuk bisa nyontreng pun ikut-ikutan aneh.

Beberapa hari lalu saya baru tahu kalo nama saya ndak tercantum di DPT di Depok, padahal saya punya KTP di sana. Alasannya (mungkin) karena saya baru tercatat sebagai warga Depok sejak tiga bulan lalu ikut alamat mertua. Sempat gondok juga, tapi kabar selanjutnya sungguh mengejutkan. Saya dapat undangan memilih di RT tempat kos saya di Kebayoran Lama, padahal saya ndak punya KTP di situ.

Tapi saya ndak mau pusing-pusing, lha wong ini hak saya, maka saya pun nyontreng dengan senang hati di TPS dekat kos. Toh, nama saya ndak tercantum dobel di tempat lain.
Dasarnya memang sudah terlanjur aneh, nyampenya di TPS, banyak orang (terutama bapak-bapak dan ibu-ibu sepuh) sepertinya kebingungan. Ndak cuman cara nyontreng yang bikin keder, ternyata sebagian dari mereka belum tau mau milih apaan.
Seorang bapak di bilik sebelah saya malah dengan hebohnya berbisik terus kepada saya (bisik-bisik kok heboh ya…?).

“Nak, ini milihnya gimana ya…?”
“Contreng partainya, nama atau nomernya aja Pak,” bisik saya tanpa noleh, takut disemprit panitia sih.
“Duh gimana nih… Partai Karya apaan itu mana ya?”
“Wah, gak tau pak…”
“Kalo nomer 31 mana?”
“Tanya petugasnya aja Pak… ntar saya dimarahi…”

Wuih, ini yang ngaco masyarakatnya atau pemerintah atau partai -partai sih? Bukannya sosialisasi nyontreng sudah dilakukan? Atau jangan-jangan para caleg itu ngakunya sosialisasi tapi nyatanya lebih sibuk foto-foto dan nempelin gambar di pohon-pohon?

Selesai nyontreng, jari kelingking dicelup tinta. Ini tandanya seseorang ndak bisa nyontreng dua kali. Namun, beda lagi bagi para serombongan cewek ABG di dekat TPS tempat saya nyontreng. Dengan dandanan heboh khas ABG, mereka ngumpul di depan TPS. Bukan, mereka bukannya mau nyontreng, karena memang belum cukup umur.

Setelah keluar dari TPS, saya sempat kaget karena mereka ngerubungi saya. Sempat GR juga karena pada dasarnya saya memang ganteng, lucu dan baik hati :).
“Mas, mas… lihat jarinya mas, kelingkingnya masih basah?”
“Ha? Apa?”
“Sini mas, minta tintanya, olesin sini…” cewek-cewek ABG yang sayangnya bukan tipe saya (he..) kemudian berebutan ngolesin kelingkingnya ke kelingking saya.
“Buat apaan sih?” tanya saya.
“Mo ke Dufan, dapet diskon…”
“Oh….” Ingatan saya langsung tertuju pada iklan di KOMPAS pagi ini:

“TUNJUKKAN KELINGKING DENGAN TINTA PEMILU ANDA DAN MASUK DUFAN DISKON 50 PERSEN HANYA UNTUK TANGGAL 9 DAN 10 APRIL 2009”

Wooo… benar-benar negeri aneh. Masih ABG saja sudah kreatif bikin rekayasa nyari keuntungan sendiri, gimana ntar kalo mereka kelak jadi anggota DPR, jadi pejabat atau jadi rekanannya pejabat? Hufff….

Blog Versus Facebook

Tiba-tiba saja blog ini makin terasa sepi. Entah kenapa, mungkin saja karena pemiliknya makin malas mandi. Makin malas pula nulis macem-macem.

Ndak cuman itu saja. Akhir-akhir ini setiap kali nge-net, situs pertama yang mesti saya buka adalah facebook, bukan lagi blog. Padahal, lewat blog ini sudah bermacam adegan tercipta. Lha kok sekarang, ibarat kecantol gebetan baru, saya lebih suka nempel sama facebook.

Memang benar sepertinya manusia itu cenderung punya DNA NRS alias narsis. Maunya pamer ini dan itu. Lewat blog ini saya biasa pamer anu saya, suka ngerasanin orang yang ndak pernah saya kenal. Sekarang lebih edan lagi, lewat facebook, saya ngerasanin orang yang notabene sudah saya kenal, blak-blakan pula.
Rata Penuh
Kalo dunia begini jadi makin transparan, apakah nanti tiap kali saya mandi pun bakal diamati orang ya?

Sekarang saya bingung. Pilih blog atau FB? Atau dua-duanya. Ibarat lagu Didi Kempot, bojo loro (istri dua) memang asyik, tapi bisa bikin pusing. Ada saran? (wku)

Republika, Minggu (1/3)

'Menye-menye'

Dunia kesehatan jiwa kembali terguncang. Virus baru dengan nama ‘menye-menye’ kini telah ditemukan.dan merenggut banyak korban. Kumbang (18 tahun) bukan nama sebenarnya, divonis dokter terserang virus ’menye-menye’ akut. Cowok ABG ini mengalami gejala yang mirip dengan penderita ’menyeis’ yang disebabkan virus berkode ’m2’ itu. Rambut Kumbang berubah awut-awutan ndak jelas, ada bagian yang panjang bak gorden, tapi di satu sisi ada yang jabrik agak lengket. Mulut pemuda yang baru lulus SMA ini selalu komat-kamit dan kadang-kadang mengucapkan kata-kata ”Es Teh Dua Gelas... Es Teh Dua Gelas...!”.

Gejala sama juga dialami Melati (16) dan Puspa (15), keduanya bukan nama sebenarnya. Dua cewek baru gede ini sering goyang miring-miring sambil tangannya diayun-ayunkan. Mereka seringkali histeris saat mendengar lagu-lagu Rindu Band, Hijau Gaun dan Lima Menits. Menurut saksi mata yang enggan disebutkan namanya, kedua cewek itu sampai-sampai ndak mau sekolah karena ketagihan nonton Dahshyooaatt dan Inblockz di tipi.

Menurut para ahli kejiwaan, acara tipi Dahsyooaatt dan Inblockz itu dapat memicu tersebarnya virus ’menye-menye’. Selain perilaku yang aneh, apabila virus ini sudah berkembang menjadi penyakit ’menyeis’ akan sangat berbahaya. Penderita ’menyeis’ akan kesulitan mengucap kata ’cinta’. Ia juga akan trauma apabila didekati lawan jenis, takut terjadi ’kegagalan cinta’.

Virus ini hingga kini terus berkembang dan belum ditemukan penangkalnya.

”Virus ini berbahaya seperti ular, suka memangsa, suka memangsa, semakin ku kejar, semakin jauh pula, kalau gitu enaknya cari pacar lagi...” kata seorang dokter di sebuah klinik kejiwaan.

Meski lebih banyak menyerang ABG, virus ini disinyalir secara diam-diam juga telah menyerang para orang dewasa pada rentang usia 25-60 tahun. Hal ini dikarenakan penyebarannya yang tidak melulu lewat tipi, tetapi juga bisa lewat ring back tone hape. (wku)

Valentine

Sayangku, bentar lagi valentine lho…
Seperti yang sudah-sudah, aku selalu lupa hari itu
Lupa kalo sebagian orang-orang jadi lupa daratan pada hari itu
Lupa kalo orang tua kita, kakek nenek kita, sama sekali ndak kenal hari itu
“Falenten iku opo to nak…?” begitu kata mereka.

Sayangku, bentar lagi valentine lho...
Kata orang-orang, kalo ndak ikutan valentine berarti ndak romantis
Mosok sih? Apa iya? Betul begitukah?
Kok aku ndak percaya ya?
Buktinya, tanpa romantisme yang dibuat-buat dan dirayakan pun, kita awet hingga kini

Sayangku, bentar lagi valentine lho…
Biasanya banyak penjual coklat en bunga dadakan
Katanya sih, bunga dan coklat jadi simbol cinta
Mosok sih? Apa iya? Betul begitukah?
Bukannya simbol cinta dari dulu adalah 'hati'? Kenapa ndak ada yang jualan ampela ati saja ya?

Sayangku, bentar lagi valentine lho…
Dirimu ndak tergoda kan ikut-ikutan mereka?
Minta ditraktir candle light dinner pake baju pink?
Kalo boleh usul sih…
Lebih baik kita bikin indomie goreng aja yuk… biar irit asal elit. (wku)

Ganteng

Istrinya yang punya blog belummandi (IYPBB): "Gile... Ello sekarang ganteng ya?" (sambil memandangi video klip Ello terbaru: 'Masih Ada')

Suaminya istrinya yang punya blog belummandi (SIYPBB): "Gantengan mana sama suamimu?"

IYPBB: "Engg... Mas... kalo kasih pertanyaan jangan yang susah-suah donk..."

SIYPBB: "MAKSOD LO...?!"